foto ist
foto ist

Resah Petani Cengkeh di Tengah Panen Raya

POSTotabuan.com — Keresahan petani cengkeh di Sulawesi Utara (Sulut) khususnya di Bolaang Mongondow Timur (Boltim) pada tahun kemarin ketika panen raya kembali ulang lagi.

Panen raya setiap tahun sekali seakan tak bisa dinikmati oleh para petani dikeranakan hujan mengguyur sejak sebulan terakhir. Dampak dari hujan itu mengakibatkan cengkeh jadi rusak, dalam bahasa Manado cengkeh “Budo” atau memutih.

Yanto Mayo petani cengkeh di Desa Tutuyan mengaku curah hujan tinggi yang terjadi di Boltim sejak sebulan terakhir ini membuat mereka resah. Pasalnya, kata dia cengkeh Budo selalu mengahantui pikirannya.

“Kalau tidak kena terik matahari cengkeh rusak, dan pasti kami merugi, “ kata Yanto, Minggu (26/7/2020).

Disisi lain, keresahan para petani juga tak hanya pada cuacu hujan saja, tapi juga harganya yang saat ini terus mengalami penurunan.

“Yang sebelumnya harga per kilogram cengkeh kering Rp 60 ribu hingga Rp 61ribu, kini harga anjlok Rp 56 ribu per kilogram. Bahkan jika masuk panen raya seperti tahun ini bisa saja harganya akan turun sampai Rp 50 ribu. Kalau rusak pasti harganya dibawah lagi, “ ungkap Yanto.

Petani lainnya juga mengatakan, meskipun tahun ini buah cengkeh lamayan banyak, namun para petani tidak bisa memperoleh keuntungan maksimal lantaran harganya anjlok. Selain itu, curah hujan yang tinggi di Boltim belakangan kian meresahkan para petani. Jeritan itu pun lengkap lantaran para pemetik atau buruh cengkeh susah didapat.

“Harga dipasaran tidak sebanding dengan ongkos pemeliharaan dalam setahun. Ditambah lagi hujan setiap hari sehingga kami kesulitan menjemur hasil panen, jadi otomatis kami petani merugi, “ kata W Paputungan.(far)

Komentar Facebook

Komentar

Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang wajib diisi *

*