Alsintan Mulai Digunakan Petani Boltim

BOLTIM- Alat Bantu Pertanian (Alsitan), berupa mesin rontok jagung dari Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sulawesi Utara (Sulut), mulai digunakan petani di Kabupaten Bolaang Mongondow Timur (Boltim). Nantinya, Alsitan tersebut akan dioperasikan dua Kelompok Pertanian (Poktan) di Desa Motongkad Selatan.

Ketua Poktan Mawar, Desa Motongkad Selatan, Stevanus Agogoh mengatakan, bantuan Alsintan itu sesuai usulan proposal ke Dinas Pertanian Boltim tahun 2018, lewat penyuluh pertanian Rotrigo Gaib, yang kemudian dilanjutkan ke Dispertanak Provinsi Sulut. “Untuk Motongkad Selatan ada dua kelompok yang dapat mesin rontok jagung ini,” kata Stevanus.

Mesin rontok jagung ini lanjutnya, punya tiga fungsi berbeda dengan mesin rontok lainnya. “Ternyata mesin ini, selain bisa merontokan jagung, ketika mati listrik mesinnya juga bisa berfungsi sebagai genset untuk penerangan lampu,” ujarnya.

Selain itu menurutnya, mesin itu juga punya lampu depan sebagai penerang. “Dengan adanya bantuan Alsintan ini, Poktan sangat terbantukan dengan dimudahkan saat kerja siang maupun malam,” jelasnya.(riel)

 

 

 

 

Bantuan Sosial KUBE, WRS dan LANSIA Segera Disalurkan Dinsos Boltim///

 

Foto A. Rudi Malah

 

BOLTIM- Pemerintah Kabupaten Bolaang Mongondow Timur (Pemkab Boltim) melalui Dinas Sosial (Dinsos), berencana akan segera menyalurkan sejumlah bantuan sosial bagi Kelompok Usaha Bersama (KUBE), Wanita Rawan Sosial (WRS), dan Lanjut Usia (Lansia).

 

Kepala Dinsos Pemkab Boltim Rudi Malah mengatakan, jika tidak ada aral melintang pada bulan Mei mendatang, pihakya akan segera menyalurkan beberapa bantuan sosial, berupa KUBE, WRS dan Lansia.

 

“Baik itu KUBE, WRS dan lansia untuk perempuan diatas 65 tahun serta pria diatas 70 tahun,” kata Rudi.

 

Menurutnya, untuk KUBE terdapat 30 kelompok, dengan total anggaran yang ditata pada alokasi Anggaran Pedapatan Belanja Daerah (APBD) Boltim.

 

“APBD tahun anggaran 2019, sebesar Rp600 juta. Khusus KUBE, masing-masing kelompok dapat bantuan sebesar Rp20 juta. Itu berupa bahan bukan diuangkan. Tiap kelompok terdapat 10 orang anggota,” ujarnya.

 

Sedangkan untuk WRS lanjutnya, ia akan memberi bantuan berupa mesin jahit.

 

“Untuk WRS mesin jahit dan akan diberikan kepada 4 kelompok penerima, juga buat 4 kelompok perbengkelan dengan peralatan bengkelnya. untuk WRS, pemkab Boltim menyediakan biaya sebesar Rp85 juta sebagaimana tertata dalam APBD tahun anggaran 2019,” ungkapnya.

 

“Untuk lansia, akan mendapatkan bantuan berupa uang tunai kepada 1500 orang, masing-masing sebesar Rp2 juta. Total anggaraya sebanyak Rp3 miliar,” jelasnya. (Gry)

 

 

Dokter Gigi dan Umum Minim di Kabupaten Boltim///

 

Assagaf: Kemenkes Suplai Empat Dokter Nusantara///

 

Foto A. Muhammad Assagaf

 

BOLTIM- Pemerintah Pusat melalui Kementrian Kesehatan (Kemenkes) akan menyuplai empat dokter nusantara, di Kabupaten Bolaang Mongondow Timur (Boltim).

 

Sekretaris Daerah (Sekda) Boltim Muhammad Assagaf mengatakan, kemenkes akan menyuplai Dokter di Kabupaten Boltim. Hal itu karena minimnya dokter gigi dan dokter umum di Boltim. kata dia, Alasannya pemerintah pusat untuk membantu mengirimkan tenaga dokter di Boltim, dikarenakan, saat perekrutan CPNS khusus tenaga dokter gigi dan umun waktu lalu, namun untuk formasi ini tidak terisi. Sebab tak ada pelamar.

 

“Dengan demikian tenaga dokter sangat dibutuhkan, terutama dokter gigi dan umum. Sehingga inilah salah satu pihak pemeritah pusat untuk mengirim dokter yang dimaksud untuk memenuhi akan kebutuhan daerah,” kata Assagaf.

 

Menurutnya, menyangkut pembiayaan atau gaji serta tujangan untuk empat dokter nusantara, itu merupakan tanggungan pemerintah pusat lewat Anggaran Pendpatan Belanja Negara (APBN).

 

“Empat dokter itu, tanggungan Pemerintah pusat lewat APBN. Keberadaan dokter nusantara itu hanya tiga bulan. Dan diganti dengan dokter yang sama (rolling),” ungkapnya.

 

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Boltim Eko Marsidi mengatakan, jika di Kabupaten Boltim, untuk tenaga dokter masih minim.

 

“Untuk mengantisinya, pihak Dinas Kesehatan Boltim, merekrut dokter kontrak, namun pendaftarnya minim, tak sesuai sebagaimana harapan atau kebutuhan daerah ini,” kata eko.

 

Disatu sisi lanjutnya, untuk mengatasinya adalah lewat program pemeritah pusat yakni dokter nusantara.

 

“instansi saya masih membutuhkan tenagan apoteker juga tenaga perawat,” jelasnya. (Gry)

 

 

 

 

 

BOLTIM- Alat Bantu Pertanian (Alsitan), berupa mesin rontok jagung dari Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sulawesi Utara (Sulut), mulai digunakan petani di Kabupaten Bolaang Mongondow Timur (Boltim). Nantinya, Alsitan tersebut akan dioperasikan dua Kelompok Pertanian (Poktan) di Desa Motongkad Selatan.

 

Ketua Poktan Mawar, Desa Motongkad Selatan, Stevanus Agogoh mengatakan, bantuan Alsintan itu sesuai usulan proposal ke Dinas Pertanian Boltim tahun 2018, lewat penyuluh pertanian Rotrigo Gaib, yang kemudian dilanjutkan ke Dispertanak Provinsi Sulut. “Untuk Motongkad Selatan ada dua kelompok yang dapat mesin rontok jagung ini,” kata Stevanus.

 

Mesin rontok jagung ini lanjutnya, punya tiga fungsi berbeda dengan mesin rontok lainnya. “Ternyata mesin ini, selain bisa merontokan jagung, ketika mati listrik mesinnya juga bisa berfungsi sebagai genset untuk penerangan lampu,” ujarnya.

 

Selain itu menurutnya, mesin itu juga punya lampu depan sebagai penerang. “Dengan adanya bantuan Alsintan ini, Poktan sangat terbantukan dengan dimudahkan saat kerja siang maupun malam,” jelasnya.(riel)

 

 

 

 

Bantuan Sosial KUBE, WRS dan LANSIA Segera Disalurkan Dinsos Boltim///

 

Foto A. Rudi Malah

 

BOLTIM- Pemerintah Kabupaten Bolaang Mongondow Timur (Pemkab Boltim) melalui Dinas Sosial (Dinsos), berencana akan segera menyalurkan sejumlah bantuan sosial bagi Kelompok Usaha Bersama (KUBE), Wanita Rawan Sosial (WRS), dan Lanjut Usia (Lansia).

 

Kepala Dinsos Pemkab Boltim Rudi Malah mengatakan, jika tidak ada aral melintang pada bulan Mei mendatang, pihakya akan segera menyalurkan beberapa bantuan sosial, berupa KUBE, WRS dan Lansia.

 

“Baik itu KUBE, WRS dan lansia untuk perempuan diatas 65 tahun serta pria diatas 70 tahun,” kata Rudi.

 

Menurutnya, untuk KUBE terdapat 30 kelompok, dengan total anggaran yang ditata pada alokasi Anggaran Pedapatan Belanja Daerah (APBD) Boltim.

 

“APBD tahun anggaran 2019, sebesar Rp600 juta. Khusus KUBE, masing-masing kelompok dapat bantuan sebesar Rp20 juta. Itu berupa bahan bukan diuangkan. Tiap kelompok terdapat 10 orang anggota,” ujarnya.

 

Sedangkan untuk WRS lanjutnya, ia akan memberi bantuan berupa mesin jahit.

 

“Untuk WRS mesin jahit dan akan diberikan kepada 4 kelompok penerima, juga buat 4 kelompok perbengkelan dengan peralatan bengkelnya. untuk WRS, pemkab Boltim menyediakan biaya sebesar Rp85 juta sebagaimana tertata dalam APBD tahun anggaran 2019,” ungkapnya.

 

“Untuk lansia, akan mendapatkan bantuan berupa uang tunai kepada 1500 orang, masing-masing sebesar Rp2 juta. Total anggaraya sebanyak Rp3 miliar,” jelasnya. (Gry)

 

 

Dokter Gigi dan Umum Minim di Kabupaten Boltim///

 

Assagaf: Kemenkes Suplai Empat Dokter Nusantara///

 

Foto A. Muhammad Assagaf

 

BOLTIM- Pemerintah Pusat melalui Kementrian Kesehatan (Kemenkes) akan menyuplai empat dokter nusantara, di Kabupaten Bolaang Mongondow Timur (Boltim).

 

Sekretaris Daerah (Sekda) Boltim Muhammad Assagaf mengatakan, kemenkes akan menyuplai Dokter di Kabupaten Boltim. Hal itu karena minimnya dokter gigi dan dokter umum di Boltim. kata dia, Alasannya pemerintah pusat untuk membantu mengirimkan tenaga dokter di Boltim, dikarenakan, saat perekrutan CPNS khusus tenaga dokter gigi dan umun waktu lalu, namun untuk formasi ini tidak terisi. Sebab tak ada pelamar.

 

“Dengan demikian tenaga dokter sangat dibutuhkan, terutama dokter gigi dan umum. Sehingga inilah salah satu pihak pemeritah pusat untuk mengirim dokter yang dimaksud untuk memenuhi akan kebutuhan daerah,” kata Assagaf.

 

Menurutnya, menyangkut pembiayaan atau gaji serta tujangan untuk empat dokter nusantara, itu merupakan tanggungan pemerintah pusat lewat Anggaran Pendpatan Belanja Negara (APBN).

 

“Empat dokter itu, tanggungan Pemerintah pusat lewat APBN. Keberadaan dokter nusantara itu hanya tiga bulan. Dan diganti dengan dokter yang sama (rolling),” ungkapnya.

 

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Boltim Eko Marsidi mengatakan, jika di Kabupaten Boltim, untuk tenaga dokter masih minim.

 

“Untuk mengantisinya, pihak Dinas Kesehatan Boltim, merekrut dokter kontrak, namun pendaftarnya minim, tak sesuai sebagaimana harapan atau kebutuhan daerah ini,” kata eko.

 

Disatu sisi lanjutnya, untuk mengatasinya adalah lewat program pemeritah pusat yakni dokter nusantara.

 

“instansi saya masih membutuhkan tenagan apoteker juga tenaga perawat,” jelasnya. (Gry)

 

 

 

 

Komentar Facebook

Komentar

Komentar

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang wajib diisi *

*